Kembali ke Berita
Berita 27 Jul 2026

Hasil Penelitian: Implementasi High-Flow Nasal Cannula (HFNC) pada Pasien Gagal Napas Akut

Hasil Penelitian: Implementasi High-Flow Nasal Cannula (HFNC) pada Pasien Gagal Napas Akut

Kolaborasi Penelitian Klinis RSPG dan BRIN Perkuat Bukti Ilmiah untuk Peningkatan Pelayanan Respirasi

Cisarua, Bogor – Rumah Sakit Paru Goenawan Partowidigdo (RSPG) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) – Organisasi Riset Kesehatan, Pusat Riset Kedokteran Preklinik dan Klinik berhasil menyelesaikan penelitian klinis mengenai implementasi High-Flow Nasal Cannula (HFNC) pada pasien gagal napas akut. Penelitian ini memberikan bukti ilmiah bahwa HFNC merupakan terapi non-invasif yang efektif sebagai terapi lini pertama dalam penatalaksanaan gagal napas akut serta berpotensi meningkatkan luaran klinis pasien.

Penelitian dilakukan menggunakan data pasien yang menjalani perawatan di RSPG selama periode 2020–2024, dengan melibatkan 539 pasien Acute Respiratory Failure (ARF), dimana 433 pasien mendapatkan terapi HFNC. Hasil penelitian ini menjadi salah satu kontribusi penting dalam pengembangan pelayanan respirasi berbasis bukti ilmiah di Indonesia.

HFNC Terbukti Efektif sebagai Terapi Lini Pertama

Analisis penelitian menunjukkan bahwa penggunaan HFNC memberikan manfaat klinis yang signifikan. Pasien yang berhasil menjalani terapi HFNC memiliki angka keberhasilan terapi yang tinggi serta peluang bertahan hidup yang lebih baik dibandingkan pasien yang langsung memerlukan tindakan intubasi.

Sebaliknya, kelompok pasien yang mengalami kegagalan HFNC hingga membutuhkan ventilasi mekanik invasif menunjukkan risiko kematian yang lebih tinggi. Temuan ini menegaskan pentingnya pemilihan pasien yang tepat serta pemantauan klinis secara ketat selama penggunaan HFNC.

Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Terapi

Penelitian juga mengidentifikasi beberapa faktor yang berkaitan dengan keberhasilan terapi HFNC, di antaranya:

  1. Nilai PaO₂ yang lebih tinggi saat awal terapi.

  2. Frekuensi napas yang lebih rendah.

  3. Monitoring klinis secara dini dan berkelanjutan sehingga kegagalan terapi dapat dikenali lebih cepat.

Sebaliknya, beberapa kondisi ditemukan sebagai faktor risiko kegagalan terapi, antara lain:

  1. Tuberkulosis dengan kondisi berat.

  2. Sepsis.

  3. Frekuensi napas ≥32 kali per menit.

  4. Blood Urea Nitrogen (BUN) ≥48 mg/dL.

Pasien dengan karakteristik tersebut memerlukan evaluasi yang lebih intensif agar keputusan untuk melakukan intubasi tidak terlambat.

Menjadi Dasar Pengembangan Pelayanan Respirasi

Selain memberikan manfaat klinis, penelitian ini juga memberikan gambaran mengenai implementasi HFNC dalam pelayanan rumah sakit. Pasien yang berhasil dipertahankan dengan HFNC umumnya menjalani lama perawatan yang lebih panjang sebagai bagian dari proses pemulihan tanpa memerlukan ventilasi mekanik invasif.

Di sisi lain, penelitian juga menemukan adanya tantangan pembiayaan. Biaya pelayanan HFNC masih relatif tinggi dibandingkan besaran klaim yang diterima rumah sakit sehingga diperlukan dukungan kebijakan pembiayaan agar terapi ini dapat diterapkan secara lebih luas tanpa menambah beban pelayanan.

Kontribusi bagi Pengembangan Kebijakan Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan pelayanan respirasi di Indonesia, khususnya terkait pemanfaatan HFNC sebagai terapi lini pertama pada pasien gagal napas akut.

Kolaborasi antara RSPG dan BRIN menunjukkan bahwa sinergi antara rumah sakit pelayanan dan lembaga riset nasional mampu menghasilkan bukti ilmiah yang relevan untuk mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan serta pengembangan teknologi medis berbasis penelitian.

Komitmen RSPG dalam Riset Klinis

Sebagai rumah sakit rujukan nasional di bidang penyakit paru, RSPG terus berkomitmen mengembangkan penelitian klinis yang berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas pelayanan pasien. Melalui Clinical Research Unit (CRU), berbagai penelitian dilakukan untuk menghasilkan inovasi berbasis bukti ilmiah yang dapat diterapkan dalam praktik klinis sehari-hari.

Penelitian implementasi HFNC menjadi salah satu contoh nyata bagaimana riset klinis mampu menjawab kebutuhan pelayanan sekaligus memberikan rekomendasi bagi pengembangan sistem kesehatan nasional.

"Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa High-Flow Nasal Cannula (HFNC) merupakan terapi non-invasif yang efektif untuk pasien gagal napas akut apabila digunakan pada pasien yang tepat dengan pemantauan klinis yang optimal. Ke depan, dukungan kebijakan dan pembiayaan diharapkan dapat memperluas akses terhadap terapi ini sehingga semakin banyak pasien memperoleh manfaat dari inovasi pelayanan respirasi berbasis bukti ilmiah."